Hantu Perempuan Menangis Di Gubuk Angker, Mukanya Rata
Cerita horor hantu perempuan menangis ini aku alami pada saat aku berkunjung ke rumah nenekku. Kejadiannya belum lama ini terjadi. Sebelum aku menceritakan lebih lanjut perkenalkan, namaku adalah Diana Praditiawati. Saat ini aku tinggal di daerah Jawa Tengah. Awal cerita, aku ingin sekali berkunjung ke rumah nenek. Sudah lama aku yang tidak ke sana.
Rumah nenekku berada di Jawa Timur. Butuh waktu sekitar enam jam dengan menggunakan bus untuk sampai ke rumah nenek. Singkat cerita, aku pun berangkat ke rumah nenek sendirian. Aku sampai di lokasi pada sekitar jam 20.00 WIB. Kondisi di desa nenek sudah sangat sepi sekali. Maklum, lokasi desa memang berada yang jauh dari kota. Letak rumah di desa ini juga cukup berjarak. Tidak seperti rumah-rumah yang berada di kota.
Rumah nenek berada pas di ujung desa. Letaknya persis di pinggir persawahan. Malam itu, setelah banyak berbicara dengan nenek, aku pun memutuskan untuk berkeliling desa. Aku merasa rindu sekali. Aku membawa satu buah senter. Nenek mengingatkanku agar untuk pulang sebelum jam 12 malam. Aku pun lantas mengiyakan permintaan nenek. Saat baru keluar dari rumah nenek, aku melewati sebuah gubuk.
Kondisinya masih lumayan bagus. Gubuk tersebut sepertinya digunakan untuk petani bisa istirahat. Aku melewati gubuk itu dengan santai. Tidak ada rasa takut maupun khawatir. Aku pun melanjutkan perjalananku. Aku memutuskan untuk berhenti sebentar di sebuah warung kopi. Letak warung kopi itu cukup jauh dari rumah nenek. Aku pun memesan secangkir kopi dan berbincang dengan pemilik warung.
"Saudaranya Mbah Toyo, ya, mas?" tanya pemilik warung tersebut. "Iya, pak. Saya ini cucunya," jelasku. "Wah, sudah gede ya sekarang. Perasaan dahulu masih digendong oleh bapakmu," katanya. Pemilik warung itu banyak cerita mengenai nenek dan bapakku. Aku pun dengan senang hati mendengarnya.
Namun, aku sampai lupa waktu. Waktu berjalan sangat cepat sekali, sudah jam 12 malam lewat. "Kalau pulang, hati-hati mbak. Baca doa," ujar pemilik warung.
Aku pun pulang melewati jalur yang sama. Namun, dari kejauhan, aku seperti melihat seorang perempuan yang duduk di gubuk pinggir sawah. Dia menggunakan baju putih kusam. Rambutnya panjang menutupi muka.
Hantu Perempuan menangis. Suara tangisannya sangat dalam sekali, seperti orang yang baru saja putus cinta. Aku mencoba untuk mendekati perempuan itu.
Aku bertanya mengenai keadaannya. "Mbak, baik-baik saja?" tanyaku. Kepalanya menggeleng. Artinya, dia sedang tidak baik-baik saja.
Aku mencoba untuk bisa menenangkannya. Aku juga bertanya di mana rumah perempuan itu. Dia mendadak menunjuk ke arah bagian sumur yang ada di tengah sawah. Saat itu aku masih belum sadar betul, pikirku dia adalah warga kampung sebelah.
Namun, wanita itu mendadak mengangkat wajahnya. Perlahan, tangannya menyingkap rambut yang sedang menutupi wajahnya. Saat terbuka, aku pun langsung jadi kaget dibuatnya. Wajah perempuan itu rata, tidak berbentuk sama sekali.
Aku tidak kuasa dan langsung melarikan diri menuju rumah. Aku hampir saja pingsan. Sesampainya di rumah, Nenek sudah menungguku. Dia terlihat sangat khawatir. "Sudah Nenek bilang, jangan pulang sebelum jam 12 malam," ucap Nenek. Nenek menyuruhku untuk langsung masuk kamar. Pintu langsung dikuncinya.
Nenek tidak menjelaskan apa pun kepadaku. Aku pun tidak berani menceritakan tentang kejadian bertemu hantu Perempuan Menangis yang aku alami di gubuk angker itu.

.jpg)